Selasa, 30 Desember 2008

Pembangunan Bandara Internasional Majalengka Ibarat Menghitung Kancing

Jadi tidak.., jadi tidak..... Itulah kesan ...Ibarat menghitung kancing, jadi tidak, jadi tidak. Itulah kesan dari sejumlah penduduk, pejabat maupun perencana dari pembangunan bandar udara internasional Jabar di Majalengka, Jawa Barat, sebagai pengganti Bandara Husein Sastranegara yang dinilai sulit dikembangkan lagi. Ketika Bisnis berkunjung ke lokasi proyek awal bulan ini dan bertemu dengan sejumlah pemilik tanah, mereka tanpa basa-basi lagi menunjukkan dengan telunjuknya tanah-tanah yang siap dijual. "Kalau yang di sini sudah laku dibeli orang Bandung. Kalau yang di sana dekat pohon jati siap dijual harganya Rp70.000 sampai Rp80.000 per tumbak [14 m2]," kata Raji, 72 tahun, petani di Desa Mekarsari, Kecamatan Kertajati. Prasangka 'menghitung kancing' dari penduduk sekitar yang bakal terkena gusuran proyek itu beralasan, sebab ketika rencana pembangunan hendak di mulai ratusan calo tanah sibuk mencari dan membeli tanah penduduk. Namun setelah tender jalan tol Cirebon-Sumedang-Dawuan yang kurang diminati investor, maka seketika aktivitas percaloan tanah turun drastis, bahkan sejumlah pejabat di Kabupaten Majalengka pesimis pembangunan proyek bandara internasional itu akan mulus. Mereka menduga proyek itu akan berakhir di tingkat studi kelayakan saja. Dari pembicaraan dengan warga setempat, dapat ditangkap bahwa mereka berasumsi tidak mungkin berdiri bandara internasional tanpa dukungan jalan tol yang menghubungkan dengan Bandung seperti direncanakan, meski pemerintah berupaya keras agar tol Cisumdawu ini bisa laku. Namun terlepas dari asumsi-asumsi tersebut, di lapangan memang terlihat aktivitas yang cukup sibuk dari kalangan konsultan yang diwakili PT Wiratman & Associates. Mereka tengah membuat peta detail lokasi runway pesawat, termasuk wilayah mana saja yang bakal tergusur proyek. Bahkan petanyasendiri sudah dibikin lebih rinci lagi. Menurut Direktur PT Wiratman Frans S. Gultom, sebagai konsultan yang memenangi tender, bahwa saat ini dikerjakan proyek tahap awal berupa pemetaan atas topografi wilayahyang akan dijadikan bandara. "Kami menurunkan tim dari berbagai displin ilmu untuk membuat peta dasar yang akan menjadi dasar dari semua
perencanaan pembangunan bandara. Studi ini membuat petadasar pada 5.000 ha lahan yang terkait dengan 10 desa," katanya pada Bisnis.. Tetapi fokus yang terpenting yaitu pada lahan dengan luas 900 hektar yang akan dijadikan bandara dengan koordinat di Sukamulya, Kertajati, Sukaresmi. Untuk landasan dengan panjang 3 km akan memakan lahan Desa Sukakerta, Bantarjati, Sukamulya, dan Kertajati. Sebagian wilayah yang terkena proyek, terutama landasan serta fasilitas lain, merupakan lahan sawah tadah hujan serta lahan milik Perhutani. Tetapi
wilayah di Cintakarya dan Pejaten Desa Kertajati merupakan permukiman.

sumber : Wa'u


1 komentar:

Yoga mengatakan...

Kepastian semua pembebasan lahannya kapan???

Abdimedia.com (AMO) = Hot News Headline Animator